Kamis, 21 Juni 2012
Minggu, 10 Juni 2012
Gadis Dengan Setangkai Mawar
Gadis Dengan
Setangkai Mawar
John Blanford berdiri tegak dari bangku di Stasiun Kereta Api sambil
melihat ke arah jarum jam, pukul 6 kurang 6 menit. John sedang menunggu
seorang gadis yang dekat dalam hatinya tetapi tidak mengenal wajahnya,
seorang gadis dengan setangkai mawar.
Lebih dari setahun yang lalu John membaca buku yang dipinjam dari
Perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat coretan tangan
yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang
gadis bernama Hollis Molleon. Hollis tinggal di New York dan John di
Florida. John mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling
bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke medan perang, Perang Dunia
II. Mereka terus saling menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat
seperti layaknya bibit yang jatuh di tanah yang subur dalam hati
masing-masing dan jalinan cinta merekapun tumbuh.
John berkali-kali meminta agar Hollis mengirimkannya sebuah foto. Tetapi
sang gadis selalu menolak, kata sang gadis "Kalau perasaan cintamu
tulus,John, bagaimanapun rupaku tidak akan merubah perasaan itu, kalau saya
cantik, selama hidup saya akan bertanya-tanya apakah mungkin perasaanmu itu
hanya karena saya cantik saja, kalau saya biasa-biasa atau cenderung jelek,
saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kesepian dan tidak ada orang
lain lagi dimana kamu bisa mengadu. Jadi sebaiknya kamu tidak usah tahu
bagaimana rupa saya. Sekembalinya kamu ke New York nanti kita akan bertemu
muka. Pada saat itu kita akan bebas untuk menentukan apa yang akan kita
lakukan."
Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun Pusat di New York pukul
6 sore setelah perang usai. "Kamu akan mengenali saya, John, karena saya
akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kera bajuku", kata Nona
Hollis.
Pukul 6 kurang 1 menit sang perwira muda semakin gelisah, tiba-tiba
jantungnya hampir copot, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju
hijau lewat di depannya, tubuhnya ramping, rambutnya pirang bergelombang,
matanya biru seperti langit, luar biasa cantiknya.... Sang perwira mulai
menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang
gadis tidak mengenakan bunga mawar seperti yang telah disepakati. Hanya
tinggal 1 langkah lagi kemudian John melihat seorang wanita berusia 40 tahun
mengenakan sekumtum mawar merah di kerahya. "O....itu Hollis!!!!"
Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis berbaju hijau hampir
menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa terbagi 2 ingin lari mengejar
sang gadis cantik tetapi pada sisi lain tidak ingin menghianati Hollis yang
lembut dan telah setia menemaninya selama perang. Tanpa berpikir panjang,
John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan
menyapanya, "Nama saya John Blanford, anda tentu saja Nona Hollis, bahagia
sekali bisa bertemu dengan anda, maukah anda makan malam bersama saya?" Sang
wanita tersenyum ramah dan berkata "Anak muda, saya tidak tahu apa artinya
semua ini, tetapi seorang gadis yang berbaju hijau yang baru saja lewat
memaksa saya untuk mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau anda
mengajak saya makan maka saya diminta untuk memberitahu anda bahwa dia
menunggu anda di restoran di ujung jalan ini, katanya semua ini hanya ingin
menguji anda." (NN)
Pernahkah terpikir oleh anda sekalian, bahwa si pemuda bernama John Blanford
di atas akan menarik semua perkataan-perkataan cinta romantis yang pernah di
tulis dalam surat-suratnya apabila, katakanlah memang benar ternyata Nona
Hollis hanyalah seorang wanita gemuk dengan rambut hampir beruban. Untunglah
John seorang yang sangat cerdas dan berhikmat. Dia bisa saja berpikir pasti
dapat mengeluarkan sebuah alasan lain untuk mengagalkan lamarannya. Dan
tentunya jika itu terjadi, maka cerita ini pasti tidak akan ada.
Seseorang akan sangat mudah tertipu dan tergoda untuk mengikuti mata jasmani
dan mengabaikan kata hati. Orang lebih menyukai apa yang dapat dia lihat
dan sentuh dari pada apa yang dapat dirasakan dan di sentuh oleh hatinya.
Ini adalah salah satu titik kegagalan manusia dalam menjalani kehidupannya
sebagai orang yang beriman. Kita lebih tertarik melihat sebuah senyuman
manis, dari pada sikap hati. Kita lebih menyukai bola mata yang bulat dan
bening ketimbang mata hati yang tajam dan peka. Kita lebih menyukai wajah
rupawan dari pada karakter yang bagus. Singkat kata, kita semua lebih
menyukai hal-hal yang bersifat jasmaniah ketimbang hal-hal rohaniah. Itulah
sebabnya seringkali kita tersandung karena ulah kita
sendiri!
John Blanford berdiri tegak dari bangku di Stasiun Kereta Api sambil
melihat ke arah jarum jam, pukul 6 kurang 6 menit. John sedang menunggu
seorang gadis yang dekat dalam hatinya tetapi tidak mengenal wajahnya,
seorang gadis dengan setangkai mawar.
Lebih dari setahun yang lalu John membaca buku yang dipinjam dari
Perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat coretan tangan
yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang
gadis bernama Hollis Molleon. Hollis tinggal di New York dan John di
Florida. John mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling
bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke medan perang, Perang Dunia
II. Mereka terus saling menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat
seperti layaknya bibit yang jatuh di tanah yang subur dalam hati
masing-masing dan jalinan cinta merekapun tumbuh.
John berkali-kali meminta agar Hollis mengirimkannya sebuah foto. Tetapi
sang gadis selalu menolak, kata sang gadis "Kalau perasaan cintamu
tulus,John, bagaimanapun rupaku tidak akan merubah perasaan itu, kalau saya
cantik, selama hidup saya akan bertanya-tanya apakah mungkin perasaanmu itu
hanya karena saya cantik saja, kalau saya biasa-biasa atau cenderung jelek,
saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kesepian dan tidak ada orang
lain lagi dimana kamu bisa mengadu. Jadi sebaiknya kamu tidak usah tahu
bagaimana rupa saya. Sekembalinya kamu ke New York nanti kita akan bertemu
muka. Pada saat itu kita akan bebas untuk menentukan apa yang akan kita
lakukan."
Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun Pusat di New York pukul
6 sore setelah perang usai. "Kamu akan mengenali saya, John, karena saya
akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kera bajuku", kata Nona
Hollis.
Pukul 6 kurang 1 menit sang perwira muda semakin gelisah, tiba-tiba
jantungnya hampir copot, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju
hijau lewat di depannya, tubuhnya ramping, rambutnya pirang bergelombang,
matanya biru seperti langit, luar biasa cantiknya.... Sang perwira mulai
menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang
gadis tidak mengenakan bunga mawar seperti yang telah disepakati. Hanya
tinggal 1 langkah lagi kemudian John melihat seorang wanita berusia 40 tahun
mengenakan sekumtum mawar merah di kerahya. "O....itu Hollis!!!!"
Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis berbaju hijau hampir
menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa terbagi 2 ingin lari mengejar
sang gadis cantik tetapi pada sisi lain tidak ingin menghianati Hollis yang
lembut dan telah setia menemaninya selama perang. Tanpa berpikir panjang,
John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan
menyapanya, "Nama saya John Blanford, anda tentu saja Nona Hollis, bahagia
sekali bisa bertemu dengan anda, maukah anda makan malam bersama saya?" Sang
wanita tersenyum ramah dan berkata "Anak muda, saya tidak tahu apa artinya
semua ini, tetapi seorang gadis yang berbaju hijau yang baru saja lewat
memaksa saya untuk mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau anda
mengajak saya makan maka saya diminta untuk memberitahu anda bahwa dia
menunggu anda di restoran di ujung jalan ini, katanya semua ini hanya ingin
menguji anda." (NN)
Pernahkah terpikir oleh anda sekalian, bahwa si pemuda bernama John Blanford
di atas akan menarik semua perkataan-perkataan cinta romantis yang pernah di
tulis dalam surat-suratnya apabila, katakanlah memang benar ternyata Nona
Hollis hanyalah seorang wanita gemuk dengan rambut hampir beruban. Untunglah
John seorang yang sangat cerdas dan berhikmat. Dia bisa saja berpikir pasti
dapat mengeluarkan sebuah alasan lain untuk mengagalkan lamarannya. Dan
tentunya jika itu terjadi, maka cerita ini pasti tidak akan ada.
Seseorang akan sangat mudah tertipu dan tergoda untuk mengikuti mata jasmani
dan mengabaikan kata hati. Orang lebih menyukai apa yang dapat dia lihat
dan sentuh dari pada apa yang dapat dirasakan dan di sentuh oleh hatinya.
Ini adalah salah satu titik kegagalan manusia dalam menjalani kehidupannya
sebagai orang yang beriman. Kita lebih tertarik melihat sebuah senyuman
manis, dari pada sikap hati. Kita lebih menyukai bola mata yang bulat dan
bening ketimbang mata hati yang tajam dan peka. Kita lebih menyukai wajah
rupawan dari pada karakter yang bagus. Singkat kata, kita semua lebih
menyukai hal-hal yang bersifat jasmaniah ketimbang hal-hal rohaniah. Itulah
sebabnya seringkali kita tersandung karena ulah kita
sendiri!
JATUH CINTA
Jatuh Cinta Setiap Hari
Oleh: Gede Prama
Setiap orang dewasa yang normal pernah mengalami
jatuh cinta. Dalam keadaan terakhir, dunia rasanya hanya milik kita sepasang.
Semua hal kelihatan indah dan penuh kenikmatan. Jangankan kelebihan,
kekuranganpun amat mudah diterima sebagai sebuah sisi yang mengandung unsur
menyenangkan. Setiap tarikan nafas, seperti menghirup bau harum nan segar di
pegunungan. Kalau bisa, mesin waktupun mau dibuat berhenti. Sehingga kondisi
hidup yang serba menyenangkan bisa bertahan selamanya.
Sekarang bayangkan sebuah lingkungan kerja yang
dihuni hanya oleh manusia-manusia yang pekerjaannya hanya satu : jatuh cinta.
Hari ini jatuh cinta pada pekerjaan. Besoknya jatuh cinta pada diri sendiri.
Lusa jatuh cinta pada istri. Tiga hari kemudian jatuh cinta pada anak-anak di
rumah. Empat hari berikutnya jatuh cinta pada orang tua. Lima hari terakhir jatuh cinta pada mertua.
Singkat kata, lima
hari kerjanya diisi penuh oleh jadwal jatuh cinta. Siklus kerja mingguan penuh
dengan warna dan spirit hidup jatuh cinta.
Mari kita mulai dengan jatuh cinta pada
pekerjaan. Tidak banyak orang yang bisa hidup 'mewah' dengan mengganti
pekerjaan setiap kali tidak suka. Kalaupun ada orang pintar yang mudah diterima
di sana-sini, pada suatu titik ada juga batas kebosanan dari kegiatan
pindah-pindah kerja. Salah seorang kutu loncat sahabat saya, bahkan bertutur
bosan bahwa yang namanya jadi pekerja di manapun cirinya hanya dari itu ke itu
saja. Belajar dari sini, bagi mereka yang mengira bahwa tempat kerja di tempat
lain lebih baik dibandingkan tempat sekarang, mungkin sudah saatnya melakukan
refleksi ulang.
Di tempat kerja manapun ada masalah, tantangan,
orang yang tidak cocok, konflik, dan deretan hal sejenis. Bahkan setelah jadi
pengusahapun, deretan hal tadi akan senantiasa hadir.
Kalau berkaitan dengan kenaikan gaji, promosi
jabatan dan hal-hal menyenangkan lainnya, kita tidak memerlukan usaha untuk
menerimanya dengan ikhlas. Namun bekaitan dengan hal-hal negatif seperti tidak
cocok dengan orang lain, konflik, masalah, diperlukan banyak usaha agar kita
bisa jatuh cinta pada pekerjaan.
Jatuh cinta kedua yang amat penting adalah jatuh
cinta pada diri sendiri. Orang yang teramat sering jatuh cinta pada dirinya -
apa lagi senantiasa awas akan bahaya kesombongan - sebenarnya sudah sampai pada
titik lebih tinggi dari sekadar bahagia. Bahagia masih dibayang-bayangi oleh
kesedihan. Namun, pencinta diri sendiri secara penuh, tidak lagi dikejar
bayangan kesedihan, atau mengejar bayangan kebahagiaan. Bayangan itu sendiri
sudah tidak ada dan menyatu dengan sang aku.
Bagi saya, tidak ada orang yang lebih beruntung
dari orang yang sudah sampai di titik ini. Di tempat manapun, di waktu
kapanpun, dan bersama siapapun, ia selalu bercumbu dengan sang aku. Suka-duka,
sedih-bahagia, siang-malam, rindu-benci, dan dikotomi hidup sejenis, sudah
musnah bersamaan dengan jatuh cinta dia pada sang aku.
Tidak ada penolakan terhadap sang aku, yang ada
hanya penerimaan. Tidak ada keterpaksaan, sikap ikhlas senantiasa mengalir
dalam setiap moment. Tidak ada pembandingan, yang ada hanya ketulusan untuk
melihat bahwa saya ini adalah saya. Nikmat sekali bukan ? Lebih-lebih ongkos ke
arah itu tidak terlalu mahal, ia hanya memerlukan keikhlasan untuk menerima dan
kemudian mencintai sang aku. Itu saja.
Jatuh cinta berikutnya, adalah jatuh cinta pada
keluarga. Istri, anak, orang tua, mertua serta anggota keluarga lainnya, adalah
serangkaian manusia yang berkontribusi besar terhadap bangunan hidup kita.
Tanpa orang tua dan mertua, mungkin tidak ada kehidupan. Tanpa istri/suami
serta anak, rumah akan lebih menyerupai tempat kering, sepi dan sunyi.
Saya tidak tahu bagaimana kehidupan Anda, namun
dalam kehidupan saya tempat paling indah di dunia ini adalah rumah. Di mana
orang-orang yang saya cintai, orang-orang yang menerima diri saya secara utuh,
tinggal dan menunggu kedatangan saya setiap hari.
Memasuki pintu rumah, terutama ketika baru pulang
dari tugas luar kota ,
seperti memasuki gerbang surga. Betapa mewahpun hotel tempat menginap, betapa
bersihpun bandar udara yang saya lalui, betapa cantikpun wanita-wanita yang
lewat di perjalanan, tetapi tetap tidak bisa menggantikan posisi orang-orang
rumah.
Saya bersukur sekali ke Tuhan karena dikaruniai
seorang wanita yang bisa membuat saya jatuh cinta setiap hari. Dengan seluruh
kesabarannya, kesediaannya untuk menerima, kejujurannya, serta sejumlah
kekurangan lainnya, ia berhasil menimbulkan hasrat jatuh cinta setiap hari.
Sebagaimana sepasang remaja yang lagi jatuh
cinta, perasaan serupa juga sering mengunjungi saya bersama karunia Tuhan tadi.
Modal yang bisa menimbulkan hasrat jatuh cinta tadi sebenarnya tidak banyak.
Perhatian, kesabaran dan kesediaan untuk menerima seutuhnya hanyalah hal murah,
sederhana dan dimiliki setiap orang yang bisa menimbulkan hasrat orang lain
untuk jatuh cinta pada diri kita.
Sebagaimana pernah ditulis Deborah Waitley, to
love another is to look at the good. (Mencintai berarti melihat aspek baik dari
orang lain). Atau mirip dengan apa yang pernah ditulis Katherine He Burb, 'love
has nothing to do with what you are expecting to get - only with what you are
expecting to give - which is everything'. (Cinta berkaitan dengan apa yang kita
berikan, dan di sinilah letak kebesaran cinta).
Kalau demikian, bukankah tidak terlalu sulit
membuat orang lain jatuh cinta pada diri kita setiap hari ?
Langganan:
Postingan (Atom)